Rabu, 15 April 2020

PERAN INTUISI PENDIDIKAN DALAM MENCETAK GENERASI BANGSA DI ERA 4.0









Berbicara perihal revolusi industri 4.0 dan kaitannya dengan pendidikan, tentu saja dunia pendidikan adalah hal yang utama untuk mengikuti arus revolusi industry 4.0 ini, karena akan mencetak dan menghasilkan generasi-generasi berkualitas yang akan mengisi dalam era revolusi industri 4.0. Pendidikan di era revolusi industri 4.0 berupa perubahan dari cara belajar, pola berpikir, serta cara bertindak para peserta didik dalam mengembangkan inovasi dan kreatif di berbagai bidang keilmuan.

Untuk itu, inovasi teknologi di bidang pendidikan dalam hal mendukung sebuah pembelajaran yang sangat dibutuhkan pada era ini. karena untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), supaya bisa bersaing di era globalisasi. Maka diperlukan lembaga pendidikan dan guru untuk melakukan pembelajaran kreatif dan inovatif. Tentunya hal ini bisa berjalan apabila didukung oleh intuisi atau pemerintah dengan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi di era revolusi industri 4.0.

Untuk menghadapi revolusi industri 4.0, diperlukan berbagai persiapan. Di antaranya yaitu, perbaikan SDM. Langkah yang dilakukan dengan mengubah sifat dan pola pikir anak-anak muda atau siswa - siswa Indonesia saat ini. Kemudian peran sekolah adalah mengasah dan mengembangkan bakat anak anak muda yang akan menjadi generasi penerus bangsa. Serta pengembangan kemampuan institusi pendidikan tinggi untuk mengubah model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan zaman saat ini.

Selain itu, peran pemerintah dalam mengubah metode pembelajaran pendidikan dan memfasilitasi sebuah intuisi dengan hal yang sesuai  kebutuhan anak-anak. Hal ini merupakan  sangat penting untuk disediakan oleh pemerintah. Salah satu caranya, dengan menyediakan teknologi yang mumpuni. Seperti hal komunikasi, kolaborasi, dan networking untuk membangun generasi muda Indonesia yang lebih baik dan menjadi generasi muda yang bisa selaras dengan era revolusi industri 4.0

Dengan menyediakan berbagai fasilitas yang sesuai kebutuhan dan tuntutan zaman, diharapkan anak-anak muda Indonesia dapat mengantongi bekal yang cukup dalam menghadapi berbagai tantangan di era revolusi industri 4.0 ini. Mengingat kondisi teknologi yang selalu berubah, diperlukan kemampuan adaptasi yang tinggi, agar tidak ketinggalan zaman. Anak-anak muda Indonesia juga diharapkan mampu bersaing dan memiliki nilai-nilainya sendiri.

Dalam hal itu, mengusung pendidikan 4.0. Pendidikan 4.0 merupakan fenomena yang timbul sebagai respon terhadap kebutuhan bangsa ini tentang revolusi industri 4.0. Di mana manusia dan mesin diselaraskan untuk memperoleh solusi, memecahkan berbagai masalah yang dihadapi, serta menemukan berbagai kemungkinan inovasi baru yang dapat dimanfaatkan sebagai perbaikan kehidupan manusia di era modern saat ini
 

Kamis, 09 April 2020

Mahasiswa Kuliah Berbasis Online Pada Kondisi Pandemi COVID19



Kuliah online disebut juga e-Learning atau Online Course adalah proses perkuliahan dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, dalam hal ini internet.
Dalam perkuliahan online atau kuliah non tatap muka ini, mahasiswa tidak dituntut rutin datang ke kampus. Kuliah Online juga merupakan salah satu sarana pembelajaran interaktif. Dosen dan mahasiswa dapat berkomunikasi dengan menggunakan media internet. Dosen dapat memberikan materi kuliah, baik berupa file, video, maupun tulisan (teks). Dengan kuliah online, seorang dosen juga bisa mengajar di beberapa tempat secara bersamaan.

Mahasiswa bisa mendapatkan materi perkuliahan berupa file atau bacaan dari dosen yang bersangkutan, mengirimkan pertanyaan kepada dosen mata kuliah tersebut, mengirimkan kontak pada mahasiswa lain, melihat informasi dari dosen yang bersangkutan, dan melakukan ujian pada waktu yang telah ditetapkan.

Kuliah Online berisi Konten Terbuka (Open Content), yaitu materi belajar dapat digunakan bersama-sama. Kuliah Online juga bisa menjadi Pembelajaran Mobile (Mobile Learning). Mahasiswa dapat mengikuti kuliah di mana saja dan kapan saja, selama mereka memiliki koneksi Internet. Beberapa materi kuliah bahkan dapat di akses walaupun tidak ada koneksi internet.

Apalagi Pada kondisi saat ini dunia pendidikan tengah menjadi sorotan serta perdebatan hangat dikalangan masyarakat karena mengalami kepakuman untuk sementara waktu akibat pandemi Coronavirus COVID19 yang mendunia. Beberapa Kebijakan pun dikeluarkan guna untuk mencegah penyebaran virus yang tengah menyerang negara Indonesia selama beberapa waktu terakhir.

Salah satu isi kebijakan yang dikeluarkan pemerintah yaitu untuk menunda seluruh kegiatan akademis dan non akademis selama kurang lebih 3 minggu kedepan. Hal tersebut dimaksudkan untuk menjawab keresahan dari orang tua yang khawatir apabila anaknya akan terinfeksi covid-19 jika melakukan kegiatan pembelajaran yang melibatkan orang banyak.

Bahkan Presiden Joko Widodo dalam pesannya menyatakan bahwa, sudah saatnya kita bekerja, beribadah dan belajar di rumah. Bahkan beberapa Negara telah melakukan tindakan lockdown seperti Itali, US, Denmark, China, Iran karena kekhawatirannya sebuah penyebaran virus corona yang sangat cepat.

Oleh karena itu, beberapa perguruan tinggi pun memberlakukan sistem kuliah daring (online) seperti Universitas Negri,kampus perguruan tinggi swasta dan kampus kampus lainnya.
Tujuannya yaitu agar mahasiswa tetap dapat melakukan kegiatan perkuliahan meskipun tidak bertatap muka langsung dengan dosen pengampu sehingga jeda waktu selama 3 minggu dapat dimanfaatkan secara maksimal. Namun perlu diingat bahwa tujuan pembelajaran adalah mentransfer ilmu dari dosen ke mahasiswa sehingga mahasiswa memahami apa yang diberikan oleh dosen, yang semula tidak tahu menjadi tahu.

akan tetapi Kuliah online ini banyak yang berkeluh kesah khususnya mahasiswa dan mahasiswi dikarenakan Beberapa penyebabnya adalah karena masalah kualitas yang tidak dibandingkan dengan perkuliahan di kampus, dan juga masalah infrastruktur (misalnya di suatu tempat wilayah atau dikota yang koneksi internet tidak memadai). Selain itu ada yang tidak bersedia untuk ikut kuliah online karena kurangnya interaksi dengan dosen dan teman-teman sekelas. dan juga banyak mahasiswa - mahasiswi yang menyatakan bahwasannya kuliah online itu seharusnya di sediakan seperti kouta internet oleh pemerintah wilayahnya masing masing
http://literasi.com
www.narasi.com